Rabu, 22 Juni 2011

Lambungkan Lele Dengan Teknik Guba

Teknik guba terbukti melambungkan produksi lele. Di Kulonprogo,
Yogyakarta, beternak lele dilakukan di kolam terpal. Dua inovasi baru itu
membuat peternak lele kini selangkah lebih maju.
Suherman, peternak di Sleman, Yogyakarta, dapat memanen 21 kuintal
Clarias sp dari sebuah kolam berukuran 200 m2. Peternak lain paling pol
memanen 18 kuintal. Itu pun mayoritas belum memenuhi ukuran standar
pasar, sekilo isi 8—10 ekor. Inilah buah manis sejak Suherman memakai teknik
guba.
Bukan hanya tingkat keseragaman tinggi saja kelebihan teknik guba.
Panen kerabat ikan patin itu juga jauh lebih cepat, 50—55 hari dari lazimnya
60—70 hari. Menurut Suherman teknik guba pun membuat lele tahan penyakit.
Ia mencontohkan, rata-rata kematian lele setelah menggunakan teknik guba
hanya 5%; sebelumnya 20—30%.
Teknik guba
Teknik guba diperkenalkan oleh tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB)
bekerja sama dengan Bina Agro Konsultan (BAK), sebuah lembaga yang
bergerak di bidang konsultasi perikanan. Menurut Abong Kurnia Ebo, direktur
BAK, guba singkatan dari tiga unsur utama bertambak.

Yang dimaksud 3 unsur utama dalam bertambak itu adalah: dasar
tambak, air tambak, dan ikan yang dibudidayakan. Apabila ketiga unsur
itu dikondisikan optimal, peternak akan mendapat hasil tinggi. Teknik guba
memanfaatkan probiotik alias koloni mikroba. Gunanya mengoptimalkan
proses dalam pemeliharaan ikan. Mikroba itu diambil tim ITB dari isolat asli
perairan Indonesia. Mikroba itu aman dari mutasi.
Pilih probiotik sesuai tujuan. Misal, untuk perbaikan kolam dan air, ada
probiotik yang berfungsi menyuburkan dan menetralisir dasar kolam.
Sedangkan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan dipilih mikroba pemacu
tumbuh. Fungsi sesungguhnya mirip produk probiotik pada manusia. Karena
perlakuan yang umum itu pula, teknik guba tidak hanya berlaku di lele, tetapi
dapat diaplikasi pada seluruh budidaya perikanan air tawar.

Raja lele
Pada lele sebetulnya belum tepat disebut teknik guba. Pasalnya, banyak
peternak hanya menggunakan probiotik pemacu pertumbuhan. Mereka belum
mengoptimalkan penggunaan air dan dasar tambak. Peternak menyebut
probiotik itu raja lele, karena lele menjadi bongsor.
Menurut Ebo, lele menjadi bongsor karena nafsu makan terpacu dan
tingkat penyerapan pakan menjadi daging mencapai 90%. Penelitian tim ITB
membuktikan tanpa probiotik, pakan yang diserap lele menjadi daging hanya
60%. Sisanya 40% keluar sebagai kotoran. Wajar pertumbuhan lele yang
umumnya 1,44 g/hari melonjak menjadi 1,66 g/hari.
Yang istimewa, penggunaan probiotik oleh peternak sangat mudah. Cairan
probiotik 20—25 ml dicampurkan ke dalam 1 l air. Tambahkan 3—5 sendok
makan gula pasir atau tetes tebu untuk mengaktifkan mikroba, lantas diamkan
selama 5—10 menit. Campuran itu disemprotkan pada pakan sebelum
ditebarkan sampai kondisi lembap.
Tidak ada patokan khusus dosis pemberian pakan. Umumnya pemberian
pakan sehari 3 kali: pagi, siang, dan sore. Setiap petak kolam dengan populasi
9.000 ekor perlu 1 ember timba setara 5 kg pakan per pemberian. Umumnya
pakan itu dihabiskan lele tanpa sisa. Lantaran langsung habis, kolam menjadi
bersih dari sisa pakan sehingga amonia yang beracun tidak terbentuk.
Satu petak kolam berpopulasi 9.000—12.000 ekor cukup diberi 4 botol
raja lele berisi 100 ml sampai panen. Walau terbukti mampu menggenjot hasil
panen, raja lele bukanlah obat. Ia hanya meningkatkan daya tahan tubuh. Bila
lele dalam kolam telah terkena penyakit, mau tak mau perlu diobati memakai
antibiotik.

Budidaya di pantai
Ada yang istimewa tak jauh dari Pantai Trisik, Kulonprogo, DI Yogyakarta. Di
sana budidaya lele dilakukan di atas tanah berpasir. Kolamnya menggunakan
terpal. Pada akhir Februari 2009 lalu dari sepetak kolam 4 m x 8 m
Jumaryanto, satu-satunya peternak lele di sana, memanen 3,5 kuintal lele
ukuran konsumsi 7—10 ekor/kg. Hasilnya tidak kalah dibandingkan di
kolam tanah.
Menurut Wagiran, perintis budidaya lele di lahan berpasir itu, cara ini
baru pertamakali dilakukan di Kulonprogo, yang notabene memiliki banyak
daerah berpasir karena dekat pantai. “Malah mungkin juga di Indonesia,”
katanya. Musababnya, sulit membangun kolam dengan kondisi lahan
berpasir seperti itu. Selain mudah amblas saat diinjak, air pun mudah
lolos seperti terisap di antara pori-pori pasir. Mayoritas penduduk di Desa
Banaran bercocok tanam palawija dan cabai di lahan pasir itu.
Membangun kolam terpal di lahan pasir cukup simpel. Pertama-tama
area yang hendak dibangun kolam dikeduk sedalam 90 cm. Dindingdindingnya
dibuat miring 30˚. Kemiringan ini nantinya berguna sebagai
penyangga terpal saat sudah berisi air. Tanah hasil galian itu selanjutnya
digunakan untuk membuat tanggul setinggi kurang lebih 40 cm. Tanggul
itu dipadatkan supaya kuat. Agar tidak amblas, permukaan tanggul diberi
batako atau bata merah.
Langkah berikutnya memberikan sekam di dasar kolam setebal 10 cm.
Untuk kolam ukuran 4 m x 8 m seperti milik Jumaryanto dibutuhkan 3 kubik
sekam. Menurut Wagiran sekam berguna menjaga agar suhu stabil di kisaran
27—30˚C. Selanjutnya selapis terpal dapat dipasang. Nah, ujung terpal yang
mengitari pinggir kolam kemudian ditutup batako atau bata merah. Batako
gunanya sebagai pemberat agar terpal tidak melorot. Selanjutnya kolam siap
dipakai.

Murah
Kolam terpal memiliki segudang kelebihan. Modalnya murah ketimbang
kolam semen. Wagiran menghitung biaya membuat kolam 4 m x 8 m sekitar
Rp5-juta. Dengan terpal paling pol Rp600.000. Masalah daya tahan pun tak
kalah. Kolam terpal dapat dipakai selama 4 tahun, dengan syarat ujung terpal
yang ada di tepi kolam tertutup rumput. Jika tidak ketahanan terpal paling pol
2 tahun. Pun masa pengeringan kolam jauh lebih singkat. Kolam tanah butuh
waktu sampai 3 hari, terpal hanya 1 jam.
Meski mudah dan aplikatif, ikan yang dipelihara di kolam terpal butuh
penanganan khusus. Ini karena sisa pakan dan kotoran ikan tidak akan terurai
akibat kolam tidak bersentuhan dengan tanah. Jumaryanto mengatasinya
dengan melakukan 2 kali penggantian air selama 1 siklus budidaya. Pertama
pada saat lele ikan berumur 50 hari dan kedua 10 hari berikutnya. Dengan
cara ini kematian lele paling banter mencapai 10%.***





MATERI TENTANG BUDIDAYA IKAN LELE

Memaksimalkan Budidaya Lele 

Keunggulan Lele Sangkuriang

Teknik Guba Pada Budidaya Lele

Menekan Biaya Untuk Budidaya Ikan Lele

Pemasaran Ikan Lele

Teknik Pembesaran Lele Sangkuriang

Teknik Pengomposan Kolam Lele